♥ Baca iiuuukk...giVe uR coMMent yiia,.. ♥


Selasa, 22 Juli 2008

Mengkritisi Budaya Belajar Kita,..


Artikel ini aku tulis setelah berdiskusi dengan beberapa rekan kantorku di tempat aku magang. Tadinya sih, kami hanya saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman kami ketika di sekolah. Tapi lama-lama, diskusi kami berlanjut tentang cara belajar dan diajar kami ketika menimba ilmu selama bertahun-tahun di bangku sekolah.


Tulisan ini aku buat bukan semata-mata karena cara belajarku sudah bagus dan patut diteladani. Sama sekali bukan. Tulisan ini hanya sebagai bukti kesadaranku bahwa proses belajar yang sudah 11 tahun aku jalani ini sering kali sia-sia.


Sudah berapa bidang study yang kita pelajari? Matematika, Bahasa, IPA, IPS, dan beberapa mata pelajaran lain yang mungkin sudah kita lupa materinya apa. Sering kali, ketika kita belajar di sekolah, niatan kita hanya untuk mendapatkan nilai yang baik dan bisa lulus sekolah dengan hasil yang membanggakan. Karena itulah, banyak siswa-siswi yang menyontek ketika ujian dilaksanakan. Kita tidak pernah berfikir “Untuk apa ya saya belajar ini…?”, “Apa yang akan saya hasilkan jika mempelajari ini..?”, ”Dalam hal apa saya bisa mempraktekannya…?”, “Kelak saya bisa jadi apa kalau belajar ini…?”. Pernahkah anda memikirkannya? Jika pernah, sungguh saya ingin belajar dari anda!!


Memang sih, ada beberapa orang yang juga pernah memikirkannya. Tapi hanya sebatas berfikir, tanpa ada realisasi yang jelas. Sering kali kita hanya sekedar berfikir dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hati saja. Karena itu, jadilah masyarakat kita seperti sekarang ini. Orang-orang yang hanya belajar untuk mendapatkan gelar akademis, pekerjaan yang layak serta kebebasan financial dengan cara yang instan. Sehingga pelajar-pelajarpun terinfeksi oleh budaya semacam ini. Aksi contek-mencontek yang semakin marak, pembocoran soal ujian, dan hal-hal jelek lainnya.


Misalnya saja, suatu ketika temanku pernah bertanya pada guru matematika yang sedang mengajar dikelas. Saat itu materi yang sedang dibahas adalah persamaan dan pertidaksamaan linear. Ketika session pertanyaan, temanku bertanya “Di kehidupan sehari-hari persamaan linear itu kita aplikasikan dimana ya bu?”, dan guruku menjawab, “Kalian cari saja di buku, dimana saja biasanya persamaan linear itu diaplikasikan”. Gubrakkkk !! Aku tidak tahu apa maksud dari jawaban guruku itu. Entah itu karena dia ingin siswa-siswinya belajar mandiri atau memang karena dia tidak tahu. Yang jelas, saat itu aku dan temanku mencarinya dalam buku-buku matematika yang kami pelajari. Tapi pertanyaan kami sama sekali tidak ada yang membahas. Yang ada hanya pembahasan rumus dan contoh-contoh soal. Lalu siapa yang mesti kami pintai jawab?


Setelah kejadian itu, aku jadi semakin mengerti bahwa budaya semacam itu bukan hanya menginfeksi para pelajar saja, tapi guru-gurunya juga. Murid-murid belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, dan guru mengajar hanya untuk mendapatkan gaji dari pemerintah. Tidak ada lagi rasa ingin tahu dan kritisasi akan ilmu.


Kita terus berdoa dan berusaha, semoga budaya-budaya seperti ini akan segera lenyap dari dunia pendidikan Indonesia. Kalo tetep kaya gini, apa kata dunia??


Bravo Education…Bravo Indonesia !!!

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kyaknya susah deh menghilangkan budaya contek mencontek mah ... !!

 
cursor